Latihan Kardio dan Latihan Beban Mempengaruhi Hormon Secara Berbeda

Setiap hari banyak orang bersepeda ke dan dari tempat kerja atau mengunjungi gym untuk mengangkat beban berat. Terlepas dari bentuk pelatihan yang mereka pilih, entah Latihan Kardio atau Latihan Beban, hampir semua orang melakukannya untuk meningkatkan kesehatan mereka. Tetapi kita benar-benar tahu sangat sedikit tentang bagaimana berbagai bentuk pelatihan mempengaruhi kesehatan kita.

penelitian baru menunjukkan, Latihan Kardio dan Latihan Beban mempengaruhi tubuh secara berbeda berkaitan dengan jenis hormon yang mereka lepaskan ke dalam darah. Salah satu kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa latihan kardio menghasilkan hormon metabolik FGF21 dalam jumlah yang jauh lebih besar dari daripada latihan beban.

Namun, sekarang para peneliti dari University of Copenhagen telah semakin dekat untuk memahami beragam efek dari berbagai bentuk pelatihan. Dalam sebuah penelitian baru yang diterbitkan dalam Journal of Clinical Investigation – Insight, para peneliti menunjukkan bahwa latihan kardio pada sepeda statis, menyebabkan peningkatan produksi hormon FGF21 tiga kali lebih besar daripada latihan kekuatan dengan beban. FGF21 memiliki banyak efek positif pada metabolisme.

“Tentu saja sangat menarik bagi kita para peneliti untuk melihat bagaimana bentuk-bentuk aktivitas fisik yang berbeda benar-benar mempengaruhi tubuh secara berbeda. Kami telah mengetahui tentang efek berbagai bentuk pelatihan pada hormon yang lebih terkenal seperti adrenalin dan insulin untuk waktu yang lama. Tetapi fakta bahwa latihan kekuatan dan latihan kardio mempengaruhi hormon FGF secara berbeda adalah hal baru bagi kami,” kata Christoffer Clemmensen. Beliau adalah Associate Professor dari Novo Nordisk Foundation Center for Basic Metabolic Research, yang merupakan salah satu peneliti di balik penelitian ini.

Tidak Ada Perubahan dari Pelatihan Kekuatan

Para peneliti telah mempelajari efek pada 10 pria muda yang sehat, yang secara acak dibagi menjadi dua kelompok dan melakukan Latihan Kardio dan Latihan Beban seminggu sekali. Kedua bentuk pelatihan itu relatif keras dan berlangsung selama 60 menit. Latihan kardio terdiri dari bersepeda pada tingkat asupan oksigen maksimum 70 persen. Sementara latihan kekuatan/beban terdiri dari lima latihan diulang 5 x 10 kali dan melibatkan kelompok otot utama dalam tubuh.

Selanjutnya, delapan sampel darah diambil dari para peserta, empat jam setelah Latihan Kardio dan Latihan Beban. Tujuannya untuk mengukur perkembangan gula darah, asam laktat, berbagai hormon dan asam empedu di dalam tubuh. Pengukuran ini yang mengungkapkan peningkatan signifikan dalam produksi hormon FGF21 sehubungan dengan latihan kardio. Sementara latihan kekuatan tidak menunjukkan perubahan yang signifikan berkaitan dengan hormon ini.

“Pelatihan ketahanan pada sepeda (di gym) memiliki efek yang nyata pada hormon metabolik. Potensi FGF21 sebagai obat melawan diabetes, obesitas dan gangguan metabolik saat ini sedang diuji. Sehingga fakta bahwa kita dapat meningkatkan produksi FGF21 sendiri melalui pelatihan adalah hal yang menarik,” Christoffer Clemmensen menjelaskan.

Hormon Otot Mengejutkan Para Peneliti

Para peneliti juga mengukur kandungan dalam darah hormon lain, FGF19, yang antara lain dikaitkan dengan pertumbuhan otot dalam tes hewan. Karena penelitian sebelumnya, para peneliti mengharapkan pelatihan kekuatan untuk memiliki efek pada hormon ini. Namun, hasil membuktikan mereka salah.

“Bertolak belakang dengan hipotesis kami, produksi hormon pertumbuhan FGF19 sebenarnya turun sedikit setelah latihan kekuatan”, kata rekan penulis studi Jørn Wulff Helge. Beliau adalah Profesor Aktivitas Fisik dan Kesehatan di Pusat Penuaan yang Sehat dan Departemen Ilmu Biomedis.

Para peneliti sekarang akan melihat lebih dekat pada hubungan lain antara hormon yang terlibat dalam metabolisme dan olahraga.

Sumber:
1. https://www.sciencedaily.com/releases/2018/08/180824101138.htm
2. Gambar: www.localfitness.com.au (dari wikipedia.org)
3. Universitas Kopenhagen, Fakultas Kesehatan dan Ilmu Kedokteran, 24 Agustus 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *